Perpres No.54/2010, Angin Segar bagi Rekanan Lokal

Disahkannya Perpres No. 54 tahun 2010 menggantikan Keppres 80 tahun 2003 tentang pengadaan barang dan jasa, cukup memberi angin segar bagi usaha kecil lokal khususnya yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

Apa dampaknya?

SALAH satu poin dari perpres baru yakni mengatur dan membatasi nilai tender rekanan asing. Kalau sebelumnya diberikan porsi Rp 50 milyar, kini asing hanya berhak atas tender di atas Rp 100 milyar.

Kondisi ini tentu peluang sekaligus tantangan bagi rekanan lokal. Minimal mereka bisa meningkatkan peran di daerah dengan merebut tender-tender APBD/APBN, dan maksimal mereka juga dipacu untuk ikut berkiblat di tingkat dunia.

Apakah dalam konteks ngesub pada pemenangan tender asing maupun memenangkan langsung proyek asing dengan nominal tender di atas Rp 100 milyar itu.

Ketua Gapensi Badung, Si Ketut Gede Gunawan mengungkapkan, memang perpres baru cukup berpihak pada usaha kecil. Namun, bukan berarti mereka dengan mudah memenangkan persaingan mengingat kompetitor yang dihadapi juga makin hebat. Mereka bukan saja sesama rekanan lokal maupun nasional, asing pun cukup banyak mengincar proyek-proyek besar di daerah.

Contohnya proyek-proyek yang merupakan andil asing yakni proyek DSDP yang memanfaatkan rekanan dan teknologi Jepang. Namun rekanan lokal bisa berbangga dalam proyek itu rekanan lokal bisa ngesub atau kerja sama di dalamnya. Ini positif, karena dengan cara ini secara tak langsung akan jadi pembelajaran untuk lebih profesional dalam pelayanan.

Ketatnya kompetisi bisnis jasa konstruksi 2010 dan diprediksi makin sengit di tahun 2011 diharapkan menjadi pecut bagi rekanan lokal untuk makin meningkatkan kompetensi, lebih-lebih memasuki era layanan pengadaan sistem elektronik (LPSE).

Mereka tak haya dituntut meningkatkan kualitas SDM dengan menguasai IT dan bahasa asing (Inggris), juga melakukan upaya-upaya penguatan modal lewat kerja sama dengan dunia perbankan, di samping kemampuan promosi yang andal. Dalam konteks merebut terbukanya peluang tender dunia, salah satu kelemahan rekanan lokal yakni minimnya penguasaan bahasa asing di samping masih awam IT.

Ini menjadi indikator sulitnya mereka memahami isi tender yang berdampak pada hilangnya kesempatan yang ada. Untuk berebut tender nasional dan lokal, rekanan masih terkendala penguasaan teknologi, mengingat masih banyak perlu meningkatkan kemampuan memasuki sistem tender elektronik.

Sebelumnya mantan Ketua Gapensi Kota Denpasar, Ir. Nyoman Suwarjana mengungkapkan, regulasi jasa konstruksi yang kian memihak perlu dibarengi dengan langkah-langkah yang lebih kongkret oleh rekanan lokal. Intinya mereka harus siap memperbaiki kualitas diri dan layanan sehingga setiap tender dapat diikuti.

Sistem pengadaan elektronik contohnya, jelas mengkondisikan persaingan yang sehat dan transparan. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika masih berlaku sistem konvensional. Sistem ini sangat riskan memunculkan praktik kongkalikong antara panitia lelang dengan peserta tender.

Karena itu, sudah saatnya rekanan lokal memacu diri, menunjukkan jadi diri untuk keluar jadi pemenang pada setiap tender dengan penawaran terendah dan responsif. Dengan cara ini selain profit yang diperoleh untuk perusahaan, lewat layanan yang bermutu kepercayaan pengguna jasa juga makin meningkat.

Dia mengharapkan, walaupun kompetensi rekanan lokal mendesak untuk ditingkatkan, bukan berarti tak ada rekanan sudah melanglang dunia. ‘’Sudah ada beberapa rekanan yang berhasil mendapatkan proyek di negeri asing karena tak lepas dari kemampuan dan disiplin mereka dalam berkarya,”imbuh rekanan yang pernah dipercaya menggarap proyek bandara di Lombok ini. *gun

Ket. Regulasi yang lebih memihak pada usaha kecil makin memberi peluang pada rekanan untuk bersiang secara kompetitif.[]

Sumber: www.bisnisbali.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: